Selasa, 22 September 2015

Lomba Bisa Cegah Tawuran

MENJADI YANG TERBAIK: Siswa SMA sederajat Lobar saat mengikuti lomba Empat Pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia di SMKN 2 Kuripan, kemarin


GIRI MENANG - Maraknya tawuran pelajar yang terjadi luar daerah membuat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Barat ambil sikap. Mencegah terjadinya tawuran antar pelajar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Barat menggelar lomba Empat Pilar Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia bagi siswa SMA sederajat. Kegiatan ini secara resmi dibuka Kepala Dinas Dikbud Lobar H Ilham di SMKN 2 Kuripan Lombok Barat, kemarin (21/9).

Diungkapkan, realita yang terjadi di tengah arus globalisasi ini masih sering terjadi tawuran antar pelajar dan antar kampung. Hal tersebut menunjukkan nilai-nilai pancasila dan undang-undang dasar itu masih lemah. Ini fakta yang ada. Oleh sebab itu, ia meminta satuan pendidikan menanamkan nilai-nilai sosialisasi melalui lomba empat pilar MPR RI antar pelajar. “Untuk menekan angka tawuran antar pelajar tentunya salah satunya dengan cara kegiatan semacam ini. Selain itu, sosialisasi di sekolah kita masing-masing,”kata Kepala Dinas Dikbud Lobar H Ilham.

Menurutnya, pemahaman dan implementasi terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam pilar-pilar negara tersebut harus terus ditumbuhkembangkan dalam mewujudkan cita-cita masa depan Indonesia yang lebih baik menuju masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur. Serta menjadi negara yang berdaulat dan bermartabat. 

“Ibu dan bapak guru harus intens menanamkan nilai-nilai kebersamaan, sopan santun dan persatuan.  Pendidikan karakter sangat penting agar siswa memiliki karakter ke-Indonesian”katanya. 

Dasar penyelenggaraan kegiatan ini adalah untuk memastikan siswa memiliki wawasan yang memadai tentang  empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga  mampu membentuk insan Indonesia yang berkarkter dan berkepribadian. 

“Kami ingin siswa bisa bersiang ditingkat nasional,” ujarnya.

Disebutkan, tujuan dari penyelenggaraan lomba  empat pilar MPR RI dijajaran siswa Lobar  di antaranya untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman siswa dan  masyarakat terhadap Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika, serta materi dan status hukum ketetapan MPR. 

“Tujuan kegiatan ini yang tak kalah pentingnya adalah untuk lebih memasyarakatkan dan membudayakan pentingnya penyelenggaraan kehidupan berkonstitusi melalui pemahaman aturan dasar. Serta untuk membekali siswa agar memiliki semangat kebangsaan terhadap diri mereka masing-masing,” katanya. (jay/r11)

Anak PAUD Seharusnya Bermain

face painting
TIDAK BERACUN: Banyak cara digunakan guru dalam metode belajar. Salah satunya lewat face panting. Ini dilakukan PAUD Bintang-bintang di Sekolah, kemarin.

MATARAM - Anak-anak yang mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD) seharusnya belajar dengan cara bermain. Sayangnya, kebanyakan PAUD justru masih memberlakukan pelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung).

Sebuah terobosan baru dilakukan PAUD Taman Bintang-Bintang yang dikelola Diana Noor Hesse. Mereka menerapkan konsep pembelajaran back to basic. 

Sistem pembelajaran edukatif yang membebaskan anak bereksplorasi.

”Anak usia dini seharusnya tidak boleh dipaksa belajar calistung. Karena konsentrasi mereka belum bisa ketahapan itu,” ungkap Kepala PAUD Taman Bintang-bintang Diana Noor Hesse ditemui di sekolahnya, kemarin (21/9). 

Ia menjelaskan, ilmu psikologi menyebutkan anak adalah mereka yang berusia 0-8 tahun. Pada usia ini, ada lima aspek yang perlu dipelajari anak, yakni aspek moral agama, bahasa, kognitif, motorik, dan sosial-emosional. 

”Anak-anak kecil memang masih sulit jika hanya diberikan materi pembelajaran saja. Berawal dari sinilah kami mengembangkan sistem pembelajaran terpadu. Menstimulasi anak untuk bermain sambil belajar dan bermain,” jelasnya.

Menurutnya, sistem PAUD seharusnya mengacu pada sistem pembelajaran di luar negeri. Di sejumlah negara maju seperti di Jerman misalnya. Siswa tingkat SD pun tidak mengajarkan calistung. 

”Pengalaman selama 27 tahun di Jerman saya terapkan disini. Memberikan sarana dan prasarana lengkap tanpa menggunakan media elektronik,” tuturnya.

Diana mencotohkan, dalam pembelajaran yang diterapkan sehari-hari di PAUD yang dinahkodainya. Seperti face painting, tradisional game, pelayanan kesehatan dan menggunakan tiga bahasa (Indonesia, Jerman dan Inggris) saat berkomunikasi. Selain itu ada juga outing class yang dilakukan mingguan dan bulanan. Semua program tersebut tanpa melibatkan alat bantu elektronik.

”Outing class yang bersifat rekreasi kami lakukan sebulan sekali. Untuk yang bersifat pembelajaran baru kita lakukan mingguan. Seperti kunjungan ke Gramedia ataupun ke museum,” jelas wanita berkacamata ini.  

Selain itu, pembelajarannya juga unik, misalnya membiasakan anak untuk gosok gigi dan hingga mandi. Pendidikan yang diajarkan adalah kebersihan diri dengan melakukannya secara mandiri. Selain masalah kebersihan, biasanya anak diberi massage untuk melatih keterampilan gerak anak. 

”Selain itu juga anak diajarkan menyimak, melihat, dan merasa,” terang dia.

Dari semua program itu, kata Diana adalah untuk mengembangkan karakter anak dengan metode belajar sambil bermain. Tujuannya, agar anak merasa lebih santai dan tetap semangat belajar, tanpa mengurangi tujuan dari pembelajaran itu sendiri.

”Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi. Anak-anak sekarang lebih grownluistik atau K-Poplinguistik, mereka perlu disadarkan. Anak-anak harus mencintai dan melestarikan budaya lewat cara yang mereka suka,” ujarnya.

Tak hanya pendidikan formal, PAUD nya juga mengajarkan ilmu pendidikan agama dengan membaca iqro. Sebab baginya, tetap menyeimbangkan kecerdasan anak, dengan terus memberikan pelajaran nilai-nilai akhlak untuk menyertai tumbuh kembang mereka.

”Jika hanya pintar saja, banyak. Namun apabila pintar sekaligus berakhlak mulia baru itu bagus,” pungkasnya. 

Untuk dapat mengembangkan potensi anak secara optimal. Jelas Diana lingkungan positif juga memiliki peran penting. Oleh karena itu kondisi lingkungan ia pastikan seperti lingkungan dunia anak. 

”Kami menyatukan kurikulum pemerintah dengan kurikulum yang kita buat sendiri,” tandasnya. (zen/r11)

Mutasi, Isi Kasek yang Lowong

mutasi


GIRI MENANG - Akhirnya, 21 kepala sekolah (kasek) jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Barat dimutasi. Rotasi yang dilaksanakan di SKB Tematik Gerung Lobar bukan hanya sekedar untuk mengisi kekosongan saja, namun beberapa kasek digeser. Tercatat 14 muka baru yang menjadi kasek tahun ini. Diantaranya tiga jenjang SMP, sepuluh tingkat SD dan satu di TK. Selebihnya muka lama yang dilakukan pergeseran. 

“Rotasi ini pada intinya untuk mengisi kekosongan saja,” kata Kepala Dinas Dikbud Lobar H Ilham, kemarin (21/9).

Dijelaskan, mutasi terutama di sekolah baru dan kepala sekolah yang pensiun. Tercatat tahun ini ada 14 sekolah TK, SD, dan SMP yang kosong alias tanpa kasek. Saat ini ada tiga sekolah baru yang dibangun di Sekotong yaitu SMPN 5 Sekotong, SMPN 6 Sekotong, dan SMPN 4 Sekotong. Sementara untuk SD ada 10 sekolah yang kosong. Diantaranya empat orang pensiun, tiga  orang sakit dan mengundurkan diri, serta dua orang meninggal. 

“Satu lagi dari kasek TK yang kami lantik,” imbuh pria asal Kediri Lobar ini. Dikatakan, mutasi sekaligus untuk penyegaran di sekolah tingkat SD dan SMP agar bisa menjalankan tugasnya seperti apa yang ditugaskan selama ini. 

“Supaya semakin maju dan meningkatkan kualitas,” ucapnya.

Ditambahkan, kasek yang dilantik ini sudah memenuhi syarat yakni kualifikasi S1 dan sudah mendapat tunjangan profesi guru (TPG).

“Selain itu sudah mengikuti cakep,” terangnya.

Ilham berharap, kasek baru  bisa menjalankan aktivitas di sekolah dengan baik dan lancar, terutama dalam pelaksanaan proses belajar mengajar (PBM).

Disamping itu, bisa mempertanggungjawabkan bantuan yang ada di sekolah seperti dana BOS, BSD, dan sebagainya. (jay/r11)


Pendalaman Materi Untuk Tingkatkan Kualitas Lulusan

belajar
SERIUS: Murid SDN 2 Midang melaksanakan proses belajar mengajar di sekolahnya, kemarin.











GIRI MENANG - SDN 2 Midang Lombok Barat meningkatkan kualitas lulusan dengan menerapkan  sistem pendalaman materi. Jurus tersebut diharapkan bisa mendongkrak mutu pendidikan. Terlebih bisa menciptakan lulusan yang siap berkompetensi di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

“Kami ingin lulusan SDN 2 Midang bisa diterima di  SMP favorit,” kata Kepala SDN 2 Midang Lilik Jayaningsih, kemarin (21/9).

Ia menuturkan, pendalaman materi berbentuk sebuah buku. Buku tersebut terdapat materi khusus untuk pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional (UN), terdiri dari bahasa Indonesia, IPA, dan matematika. 

SD yang berlokasi di Desa Midang Gunungsari  itu pun akan memfokuskan mutu pendidikannya dalam bidang akademik. Hal itu menjadi titik fokus pihak sekolah dalam mengedepankan kualitas peserta didiknya. “Sudah saatnya kami harus berbicara mutu,” imbuh wanita berjilbab ini.

Menurutnya, sistem ini akan membantu siswa untuk menuai hasil yang baik disaat UN. Program ini diciptakan dan diterapkan di sekolah sebagai sarana serta upaya meningkatkan kualitas anak, serta mutu lulusan yang mempunyai nilai baik. 

Selain itu tambah Lilik, pihak sekolah juga selalu membimbing murid dengan aktif tambahan jam pelajaran. Sebab hal tersebut akan menambah kemampuan siswa untuk memahami pelajaran. 

“Mudahan apa yang kami terapkan di sekolah ini bisa mendongkrak kualitas lulusan,” katanya. (jay/r11) 

Puluhan Ribu Guru NTB Ikut UKG

H Moh Irfan
H Moh Irfan











MATARAM - Dari total 2.954.406 guru akan mengikuti uji kompetisi guru (UKG) secara nasional pada 9-27 November mendatang, dengan pola online. Untuk NTB sendiri UKG akan diikuti 72.033 guru yang ditentukan oleh Dikpora masing-masing kabupaten/kota. 

“UKG di sekolah yang nanti akan ditentukan bersama Dikpora kabupaten/kota,” kata Kepala Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) NTB H Moh Irfan, kemarin (21/9).

Diungkapkan, UKG 2015 ini membutuhkan 125 tempat uji kompetensi (TUK). Sementara TUK yang sudah siap sebanyak 44 tempat. 

“TUK yang siap ini sebagian besarnya sudah digunakan pada 2014 lalu,” imbuhnya.

UKG sendiri berfungsi untuk memetakan kompetensi guru. Disamping itu, melaksanakan pembinaan dan pengembangan profesi guru dalam bentuk kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan. Selain itu juga  sebagai alat kontrol penilaian kinerja guru (PKG). 

“Adapun kriteria penilaian UKG 2015 yakni semua guru yang sudah memiliki sertifikat pendidik maupun yang belum,” bebernya.

“Serta guru PNS atau non PNS yang terdaftar dalam data pokok pendidikan (Dapodik). Guru memiliki NUPTK mengajar mata pelajaran sesuai dengan kualifikasi akademik atau sesuai dengan bidang sertifikasi,” sambungnya.

Dikatakan Irfan, hasil UKG 2015 akan dijadikan  pembanding, dalam rangka peningkatan kompetensi guru melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan bimmtek pada 2016 oleh LPMP. 

“Dalam tugasnya (LPMP) mengawal delapan standar nasional pendidikan. Salah satunya mengawal standar pendidik dan tenaga kependidikan,” ucapnya.

Jadi kata dia, UKG ini 2015 bukan untuk mengevaluasi guru yang sudah sertifikasi. Apalagi sampai menahan atau menghentikan TPG. 

“Tak ada alasan bagi kami untuk menolak pelaksanaan UKG 2015 November nanti,” tukasnya. (jay/r11)