TIDAK BERACUN: Banyak
cara digunakan guru dalam metode belajar. Salah satunya lewat face panting. Ini
dilakukan PAUD Bintang-bintang di Sekolah, kemarin.
|
MATARAM - Anak-anak yang mengikuti pendidikan anak usia dini (PAUD) seharusnya belajar dengan cara bermain. Sayangnya, kebanyakan PAUD justru masih memberlakukan pelajaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung).
Sebuah terobosan baru dilakukan PAUD Taman Bintang-Bintang yang dikelola Diana Noor Hesse. Mereka menerapkan konsep pembelajaran back to basic.
Sistem pembelajaran edukatif yang membebaskan anak bereksplorasi.
”Anak usia dini seharusnya tidak boleh dipaksa belajar calistung. Karena konsentrasi mereka belum bisa ketahapan itu,” ungkap Kepala PAUD Taman Bintang-bintang Diana Noor Hesse ditemui di sekolahnya, kemarin (21/9).
Ia menjelaskan, ilmu psikologi menyebutkan anak adalah mereka yang berusia 0-8 tahun. Pada usia ini, ada lima aspek yang perlu dipelajari anak, yakni aspek moral agama, bahasa, kognitif, motorik, dan sosial-emosional.
”Anak-anak kecil memang masih sulit jika hanya diberikan materi pembelajaran saja. Berawal dari sinilah kami mengembangkan sistem pembelajaran terpadu. Menstimulasi anak untuk bermain sambil belajar dan bermain,” jelasnya.
Menurutnya, sistem PAUD seharusnya mengacu pada sistem pembelajaran di luar negeri. Di sejumlah negara maju seperti di Jerman misalnya. Siswa tingkat SD pun tidak mengajarkan calistung.
”Pengalaman selama 27 tahun di Jerman saya terapkan disini. Memberikan sarana dan prasarana lengkap tanpa menggunakan media elektronik,” tuturnya.
Diana mencotohkan, dalam pembelajaran yang diterapkan sehari-hari di PAUD yang dinahkodainya. Seperti face painting, tradisional game, pelayanan kesehatan dan menggunakan tiga bahasa (Indonesia, Jerman dan Inggris) saat berkomunikasi. Selain itu ada juga outing class yang dilakukan mingguan dan bulanan. Semua program tersebut tanpa melibatkan alat bantu elektronik.
”Outing class yang bersifat rekreasi kami lakukan sebulan sekali. Untuk yang bersifat pembelajaran baru kita lakukan mingguan. Seperti kunjungan ke Gramedia ataupun ke museum,” jelas wanita berkacamata ini.
Selain itu, pembelajarannya juga unik, misalnya membiasakan anak untuk gosok gigi dan hingga mandi. Pendidikan yang diajarkan adalah kebersihan diri dengan melakukannya secara mandiri. Selain masalah kebersihan, biasanya anak diberi massage untuk melatih keterampilan gerak anak.
”Selain itu juga anak diajarkan menyimak, melihat, dan merasa,” terang dia.
Dari semua program itu, kata Diana adalah untuk mengembangkan karakter anak dengan metode belajar sambil bermain. Tujuannya, agar anak merasa lebih santai dan tetap semangat belajar, tanpa mengurangi tujuan dari pembelajaran itu sendiri.
”Kalau bukan kita siapa lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi. Anak-anak sekarang lebih grownluistik atau K-Poplinguistik, mereka perlu disadarkan. Anak-anak harus mencintai dan melestarikan budaya lewat cara yang mereka suka,” ujarnya.
Tak hanya pendidikan formal, PAUD nya juga mengajarkan ilmu pendidikan agama dengan membaca iqro. Sebab baginya, tetap menyeimbangkan kecerdasan anak, dengan terus memberikan pelajaran nilai-nilai akhlak untuk menyertai tumbuh kembang mereka.
”Jika hanya pintar saja, banyak. Namun apabila pintar sekaligus berakhlak mulia baru itu bagus,” pungkasnya.
Untuk dapat mengembangkan potensi anak secara optimal. Jelas Diana lingkungan positif juga memiliki peran penting. Oleh karena itu kondisi lingkungan ia pastikan seperti lingkungan dunia anak.
”Kami menyatukan kurikulum pemerintah dengan kurikulum yang kita buat sendiri,” tandasnya. (zen/r11)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar